Senin, 06 Desember 2010

ALMUBAROK /KANJENG JIMAT

LAPORAN PENELITIAN
TENTANG MASJID YONI AL-
MUBAROK DAN MAKAM
KANJENG JIMAT DIDESA
BERBEK KABUPATEN NGANJUK
- Makam Kanjeng Jimat
Secara geografis makam kanjeng
jimat berada di desa kacangan
atau letak makam menjadi satu
komplek dengan masjid al-
Mubarok. Makam kanjeng jimat
ada pada posisi 6 dari timur.
Secara fisik, panjang kicijingan
makam berukuran 2,60 m, lebar
0,90 m, dan tinggi 0,50 m serta
tinggi nisan 0,95 m. diutara
makam terdapat payung tingkat 2.
pada bagian selatan kijingan
terdapat prasasti memakai huruf
Arab, namun menggunakan bahasa
Jawa yang berbunyi “Punikao
Pasarean Kanjeng Ratu
Toemenggung Sosro Kusumo”.
Selain itu makam ditutup dengan
kelambu putih dan kuning dengan
diberi kerangka dari kayu jati
yang berukuran tinggi 2 m dan
panjang 3,40m.
Bagi sebagian masyarakat Nganjuk
kedudukan kanjeng jimat
mempunyai arti tersendiri. Beliau
orang yang dianggap paling
berjasa terhadap keberadaan
Nganjuk selanjutnya.
Makam kanjeng jimat tak pernah
sepi dari peziarah, baik siang
maupun malam hari. Yang
melakukan ziarah, tidak hanya
berasal dari Nganjuk, tetapi juga
ada yang berasal dari Kediri,
Tulung agung, Blitar, Bojonegro,
Malang, Madiun, Jombang dan
Surabaya.
Kanjeng Jimat adalah seorang
bupati ke-5 dikadipaten berbek
dan sebagai bupati pertama di
kabupaten Nganjuk. Kanjeng jimat
sesuai data dokumen “Surabaya
Post” yang dijelaskan pada tahun
1930, adalah putra menantu
sultan Agung Mataram yang
sangat gigih dalam menentang
penjajah Belanda
Prasasti Pada Makam Ki Ageng
Jimat
A. Salinan
B. Alih Tulisan
· Allah
· Muhammad
· Ghain, Ra, Nun, Alif
· Lailaha Illa Allah
C. Terjemah
· Allah
· Muhammad
· Ghain, Ra, Nun, Alif (1000, 200,
50, 1 = 1251 Hijrah)
· Tiada Tuhan Selain Allah
D. Komentar
· Kalimat Lailaha Illa Allahu,
menunjukkan bahwa orang yang
meninggal beragama Islam. Tahun
meninggalnya ialah 1251 hijrah
atau 1763 tahun Jawa. Angka
yang digunakan adalah angka
abjad Arab yaitu ghain, ro, nun,
alif (1000, 500, 200, 1=1251 H)
- Masjid Yoni al-Mubarok
Sejarah
Masjid Yoni al-Mubarok
merupakan peninggalan kanjeng
jimat. Masjid tersebit dibangun
pada masa pemerintahannya,
ketika ia menjabat sebagai bupati
pertama dikabupaten Nganjuk. Ia
merupakan menantu dari sultan
agAgung Mataram. Arsitektur
masjid cukup variatif dikarenakan
adanya interaksi dengan pedagang
asing sehingga terjadi akulturasi
kebudayaan di berbagai unsur,
seperti warna masjid yang hampir
mirip dengan peribadatan orang-
orang Tiongkok, bentuk mimbar
yang cenderung mengikuti model
timur tengah.
Meskipun al-Mubarok dilakukan
pemugaran, akan tetapi tidak
untuk mengganti bagian-bagian
yang penting (bagian interior
masjid masih asli). Pemugaran itu
hanya terjadi pada eksterior
masjid seperti liwan, serambi,
gapura, dan tempat wudhu.
Masjid yang didirikan pada masa
pemerintahan kanjeng jimat
sebagai bupati pertama Kabupaten
Nganjuk disebut dengan masjid
yoni al-Mubarok, yang berasal
dari bencet yoni yang berada
didepan masjid, merupakan
peninggalan kepercayaan hindu.
Diatas bencet yoni dulu terdapat
patung perempuan yang sedang
kencing, sehingga harus dibuang.
Konon menurut keterangan,
bahwa patung tersebut merupakan
patung dewa dalam kepercayaan
Hindu yang bernama Dewi Durga,
istri Dewa Syiwa yang disembah
sebagai dewi kesuburan. Lambang
tersebut sangat kental
dimasyarakat yang dahulunya
penganut agama Hindu, kemudian
ketika beralih ke agama Islam
bangunan itu dirubah menjadi
masjid sehingga disebut masjid
Yoni al-Mubarok, yang kemudian
hari disebut masjid al-Mubarok
saja. Namun masyarakat
mengenalnya dengan sebutan
masjid wali.
Ornamentasi pada masjid Yoni al-
Mubarok dengan kerangka dari
kayu jati yang berwarna coklat tua
memperlihatkan arsitektural
kebudayaan kuno dan jika dilihat
secara mendalam akan diketahui
kebudayaan yang khas Jawa-
Hindu pada masa peralihan Islam.
Dinding Masjid berasal dari batu
bata merah asli yang disusun dan
berwarna putih serta di atas
dinding terdapat pelipat-pelipit
berwarna merah berbentuk mirip
seperti pelipat pada candi (hasil
kebudayaan Hindu). Balok pada
pintu terdapat ukiran lung-lingan
berwarna putih perak dan dikedua
sudut bagian atas dihias dengan
bunga ceplok yang di tengahnya
berwarna putih.
Nama Masjid yoni al-Mubarok
sendiri berasal dari situs
peninggalan hindu berupa sebuah
yoni yang kemudian difungsikan
sebagai penunjuk waktu sholat
dengan digantinya patung
perempuan yang sedang kencing
dengan besi lurus sebagai
penunjuk waktu.
Bahan yang di gunakan dalam
pembangunan masjid berbeda
dengan bahan yang dipakai oleh
masjid modern. Bahan yang
digunakan berasal dari kayu jati
asli yang di cat warna coklat tua,
sehingga tahan lama dan kelihatan
bagus.
Dinding masjid dari batu bata asli
yang di susun dan diberi warna
putih yang diatasnya terdapat
pelipat berwarna merah sama
dengan yang ada di candi, ini
membuktikan adanya akulturasi
dari kebudayaan hindu. Dinding
hanya berfungsi penutup bagian
dari luar, bukan sebagai
penyangga. Pada dinding terdapat
ventilasi yang juga berfungsi
sebagai hiasan. Bahan yang di
gunakan dari kayu jati asli serta
diukir menonjol. Ventilasinya ada
yang berbentuk persegi dan
geomitris. Hiasan pada ventilasi
berwarna dasar merah dan
kuning.
Dalam Masjid yoni al-Mubarok ada
3 buah pintu, tetapi pintu yang
asli yang merupakan peninggalan
kanjeng jimat sendiri ada 1 buah
yaitu di tengah, yang kemudian
dalam pemugaran ditambahkan
lagi 2 pintu. Balok pada pintu
terdapat ukir-ukiran berwarna
perak dan pintu berwarna kuning.
Di serambi masjid terdapat bedug
yang berasal dari kayu jati.
Penyangga beduk berasal dari
kayu jati asli pula dengan warna
coklat tua. Badan beduk berwarna
kunung, yang berfungsi sebagai
tanda tiba waktu sholat.
Sementara di bagian atap Masjid
yoni al-Mubarok seperti halnya
pada masjid lainnya berbentuk
tumpang, dengan tiga tingkatan
yang mempunyai arti kurang lebih
jika manusia mati meninggalkan
tiga perkara yaitu ilmu yang
bermanfaat, amal jariyah dan anak
yang sholeh.
Dalam tinjauan arkeologi, Masjid
yoni al-Mubarok merupakan bukti
adanya islamisasi di Nganjuk sejak
abad XII dan XII M. bangunan
masjid Yoni al-Mubarok di
berbek , Nganjuk merupakan salah
satu dari peninggalan Islam di
bumi Kadiri abad XII sampai XVII
M.
- Tulisan (Prasasti) dan Hiasan
Tulisan yang ada merupakan bukti
adanya akulturasi kebudayaan
hindu dengan kebudayaan Islam.
Dalam masjid terdapat
ornamentasi dan tulisan sebagai
dekorasi yang unik dan terpadu.
Ornamentasi pada masjid Yoni al-
Mubarok dengan kerangka dari
kayu jati yang berwarna coklat tua
memperlihatkan arsitektural
kebudayaan kuno dan jika dilihat
secara mendalam akan diketahui
kebudayaan yang khas Jawa-
Hindu pada masa peralihan Islam.
1. Prasasti pada beduk
ü Salinan
ü Alih tulisan
- Ghain, Dzal, Nun.
- Zai, 1750
ü Terjemah
· Aksara ghain = 1000, dzal =
700, nun = 50
· Aksara zai = 7 (tujuh sebagai
bulan Rajab dalam bulan Islam
Jawa), 1750
ü Komentar
· Angka abjad Arab digunakan
bersama dengan angka Arab.
Angka Arab yang perlu diketahui
adalah angka lima dan nol. Angka
lima (Arab) berbentuk seperti
huruf B terbalik ( ) dan angka nol
Arab adalah berbentuk nol latin
(0), bukan titik satu (.).
· Catatan waktu menggunakan
penanggalan Jawa Islam. Tahun
1750 adalah tahun Jawa Islam,
bukan tahun saka. Tahun saka
berlaku di Jawa pada masa
kerajaan hindu. Setelah Islam
masuk, penanggalan hijriyah mulai
di gunakan. Selanjutnya secara
resmi pada tahun 1555 saka
diganti dengan tahun Jawa Islam
dengan sistem penanggalan Jawa .
penganut hindu-budha tetp
melanjutkan penanggalan sampai
sekarang. Tahun 1750 Jawa
bertepatan dengan tahun 1744
saka atau 1822 Masehi dan
bertepatan dengan 1238 H.
2. Prasasti Pada Penyangga
Bedug
ü Salinan
ü Alih tulisan
Puniko Pelajer Bedug Ing Tuyo
Mirah Sinengkalan Ratu Pandito
Roso Tunggal
ü Terjemah
Ini Pelajer Bedug di tuyo Mirah
dengan menunjukkan tahun
candra sengkala
Ratu = 1 Pandito = 7 Roso = 6
(?) Tunggal = 1 atau 1764 Jawa
islam
ü Komentar
Penanggalan candra sengkala ini
menunjukkan tahun pembuatan.
Namun arti kata “rasa” itu
memnunjukan angka berapa?
Setelah di cek di buku :The
History Of Java” karya Raffles,
kata rasa tidak ditemukan untuk
itu penghitungan cukup diberi
angka 6 sebagai angka yang dapat
dipertanggung jawabkan sesuai
dengan peninggalan prasasti
lainnya.
3. Prasasti Pada Dinding Depan,
Liwan Masjid Al-Mubarok
ü Salinan
ü Alih tulisan
· Puniko masjide zamane kanjeng
rahadian tumenggung sosro
kusumo sinengkalan lena rasa
pandito iko
ü Terjemah
Iini adalah masjid zaman kanjeng
raden tumenggung sosro kusumo
dengan tahun candra sengkala :
lena rasa pandito iko
ü Komentar
Lena = 3,
rasa = 6,
pandito =7,
iko = 1,
artinya masjid ini di gunakan oleh
Raden Tumenggung Sosro
Kusumo pada tahun 1762
bertepatan dengan tahun 1847 M.
Prasasti pada pintu
Pada pintu masjid terdapat
prasasti
ü Salinan
ü Alih tulisan
1745
Hijrah
Rasulillah
Ghain, Ra’, Lam, Ha’
ü Terjemah
1745 tahun Jawa Islam
Tahun hijrah
Dari Rasulillah
Ghain (1000), Ra’ (200), lam
(30), ha (5) = 1235 Hijrah
ü Komentar
Angka tahun pembuatan pintu
menunjuk tahun 1745 Jawa
bertepatan dengan 1235 H.
perhitungan ini mungkin kurang
tepat. Selisih antara tahun Jawa
dan hijrah selisih 512 (1555
Saka- 1043 Hijrah sebagai
permulaan perhitungan Jawa ).
Tahun 1745 mestinya bertepatan
dengan 1745-512 = 1233.
v Hiasan
Dinding Masjid berasal dari batu
bata merah asli yang disusun dan
berwarna putih serta di atas
dinding terdapat pelipat-pelipit
berwarna merah berbentuk mirip
seperti pelipat pada candi (hasil
kebudayaan Hindu). Balok pada
pintu terdapat ukiran lung-lingan
berwarna putih perak dan di
kedua sudut bagian atas di hias
dengan bunga ceplok yang
ditengahnya berwarna putih.
Di serambi masjid terdapat bedug
yang berasal dari kayu jati.
Penyangga beduk berasal dari
kayu jati asli pula dengan warna
coklat tua. Badan beduk berwarna
kuning, dimana terdapat hiasan
berbentuk kala makara.
Mimbar pada masjid bergaya
timur tengah, karena bagian
depan terbuka , dengan undag-
undag berjumlah tiga.
Bahan yang digunakan dalam
mimbar sama dengan yang lainnya
dari kayu jati asli. Hiasan ukir-
ukiran yang menonjol dengan
warna dasar merah dipadu dengan
warna kuning, cukup unik dan has
sehingga terlihat megah.
Mustaka terletak di puncak
berujung dan berfungsi utama
untuk menutup atap berujung agar
tidak bocor, kemudian fungsi
lainnya sebagai hiasan eksterior.
Bentuk hiasan tersebut berupa
dedaunan bunga ceplok serta
binatang yang kelihatan ramai dan
indah. Dipuncak mustaka di hias
dengan sula, pemasangannya
dengan menancapkan besi ke
tengah puncak mustaka yang
diatasnya terdapat sula.
Mustaka dan seluruh hiasan
berwarna putih, tampak artistik
dan natural. Hiasan tersebut
tampak sekali bukan arsitektur
Islam, akan tetapi milik
kepercayaan orang hindu.
Sehingga jika dikaji lebih jauh
arsitektur masjid Yoni al-Mubarok
akan ditemukan unsur-unsur
asing, termasuk didalamnya
kebudayaan hindu Jawa dan Islam
yang merupakan bentuk akulturasi
kebudayaan dan sikap toleransi
Islam terhadap kebudayaan lain.

Comments :

0 komentar to “ALMUBAROK /KANJENG JIMAT”

Posting Komentar

 

Copyright © 2009 by NGETOS

Template by Creative555 | Powered by Nazwa